Social Icons

Rabu, 03 Desember 2014

metaprogram in nlp


Metapogram dalam NLP
Cara berfikir,berasumsi,motivasi, persepsi seseorang tergantung dari metaprogramnya.
Pada awal-awal perkembangan NLP, Dr Richard Bandler dan Leslie-Cameron Bandler, menengarai bahwa sejumlah teknik NLP yang selalu sukses diterapkan bagi berbagai orang, ternyata bisa tiba-tiba menjadi ‘macet’ untuk orang tertentu. Melalui riset pada banyak sekali subjek, akhirnya ditemukan bahwa ini disebabkan karena ada orang-orang tertentu yang memiliki ara yang berbeda dalam memproses, menyaring dan mengurutkan suatu informasi.
Lesile melanjutkan penelitian ini, dan menemukan ada sekitar 60-an faktor yang mempengaruhi cara orang memproses, menyaring dan mengurutkan informasi ini. 60-an hal ini kemudian dikenal dengan nama Metaprogram. Ini merupakan turunan dari 3 proses universal dalam pikiran: deletion,generalisation dan distortion.
Jadi, Metaprogram adalah caraseseorang dalam memproses,memfilter, mengurutkan suatu informasi,  merupakan pola internal yang membantu seseorang menentukan bagaimana caranya dia akan membentuk representasiinternal yang mengarahkanperilakunya. Metaprogram akan dipergunakan oleh seseorang dalam memutuskan apa yang diperhatikan, dan apa yang akan diabaikan. Riset-riset dalam NLP menunjukkan bahwaMetaprogram bekerja sebagai proses di bawah sadar.
Contoh paling terkenal dari Metaprogram adalah : Arah Motivasi, yakni bagaimana cara seseorang memotivasi dirinya. Apakah ia termotivasi jika ia mengejar (moving toward to) pada sesuatu, ataukah ia termotivasi jika menghindar (moving away from) dari suatu hal.
Misal:
  • Seseorang termotivasi membeli produk karena ia ingin menikmati manfaatnya (moving toward to)
  • Seseorang termotivasi membeli produk karena ia tidak ingin dianggap ketinggalan jaman (moving away from).
Atau:
  • Seseorang merokok adalah demi mendapatkan pergaulan dan dianggap gaya (moving toward to)
  • Seseorang merokok adalah demi tidak dianggap banci oleh kawan-kawannya (moving away from).

Bayangkan misalkan, perokok itu kemudian minta diterapi oleh seorang praktisi NLP. Misalkan praktisi itu kemudian berpikir terlalu teknis, maka ia akan langsung terpikir menggunakan teknik Swish Pattern(tanpa memperdulikan berbagai faktor terkait lainnya). Tidak ada yang salah dengan teknik swish pattern untuk membantu mengubah kebiasaan merokok agar terhenti.
Misalkan, kebetulan praktisi itu memiliki kecenderungan moving away from, maka kemungkinan akan mengucapkan dalam kalimat-kalimat yang merefleksikan moving away from. Misalkan pula, si Klien adalah memiliki kecenderungan moving toward to, maka kalimat yang diucapkan praktisi itu, menjadi kontra produktif pada si klien. Kenapa, karena arah motivasinya terbalik, alias tidak ‘jalan’ untuk si Klien.
Jadi, disini kita melihat pentingnya mengetahui metaprogram dari seorang klien saat sedang berbincang awal, sehingga kcenderunganmetaprogram ini bisa kita selaraskan(pacing) secara tepat.
Lho, kok ‘kecenderungan’…?
Iya, benar, metaprogram adalah suatu kecenderungan, bukan mutlak alias “either or“, artinya lebih bersifat kombinatif dari kedua sisi (kecenderungan), bukan “kalau nggak ini, ya itu”.
Metaprogram juga bukan watak, bukan kepribadian. Bahkan metaprogram adalah tergantung pada suatu konteks tertentu. Artinyametaprogram seseorang bisa berbeda di konteks yang berbeda, dan bisa berganti alias tidak menetap seumur hidup.
Contoh berbagai metaprogram yang lain:
  • Internal <—> Eksternal
  • Self <—> Others
  • Chunk Up <—> Chunk Down
  • Possibility <—> Necessity

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Designed By Yeti