Social Icons

Minggu, 12 Maret 2017

Wanita juga manusia


Kisah ini semoga menjadi pelajaran bagi kita.

Wahai anak-anak di mana kedudukan ibu bagimu?
Wahai suami di mana kau letakkan istrimu di hatimu?

Cucuran keringat dan energi yang dikeluarkan kadang tak terlihat oleh manusia lain terbalut senyum hambar.


Di antara lelah nya tubuh, masih menyempatkan mengajarkan anaknya dan bermain bersama. Tak bisa disembunyikan rasa kantuknya ketika tertidur di antara tumpukan cucian.

Teriakan si kecil membangunkannya lanjut bentakan si kakak, rajukan sang ayah menyelusup di antara gemeretak tulang-tulang si ibu mencoba untuk bangkit.

"Ya sebentar, ibu ke situ..." Sekedar ucapan menenangkan penghuni rumah. Dengan cekatan digendongnya si kecil yang menangis dan dibimbingnya si kakak untuk berbagi. Sebentar kemudian segera si ibu menyiapkan makan sang ayah yang sudah kelaparan.

Dan lagi-lagi tantangan ini. Uang, benda kecil yang selalu menguras fikiran sang ibu. "Cukup gak cukup harus cukup!" Bagaimana tidak? Baru melek mata rupiah sudah berbunyi. Belum lagi belanja sehari-hari. Anak-anak merengek minta jajan dan mainan. Apakah tega jika Anda seorang ibu? Ibu harus punya uang. Bagaimana pun caranya.

Si ibu meraih sisa tenaganya untuk mencari penghasilan demi menutupi kekurangan yang ia sembunyikan. Selalu berterimakasih berapa pun yang diterima. "Terimakasih yah..." dalam hatinya berbisik, "Apa yang harus saya lakukan untuk menutupi kekurangan ini?"

Bersyukur si ibu masih punya keahlian membuat kue. Setelah mengurus 3 anaknya ia bergegas membeli bahan-bahan kue dan memasak hingga matang diselingi tangisan si kecil yang minta menyusu.

"Sabar nak, ibu lagi masak, iya ibu ke situ" Dari kerja kerasnya akhirnya selesai sudah pesanan orang. Alhamdulillah, saya dapat uang juga...Hal yang dia kerjakan setiap hari ketika tubuh sudah tak mampu menyanggah beban hidup, dipaksakan untuk tetap survive.

Tapi tubuh wanita ada kapasitasnya. Penyakit yang dideritanya seakan tak pengaruh untuk terus bekerja sambil mengasuh anak-anaknya.

Si ibu merasakan sakit tulang punggungnya tapi tetap tersenyum. "Saya harus kuat, ini hanya capek saja,besok pasti sembuh"

Hari demi hari bulan demi bulan hal yang sama dirasakan makin parah. Tapi kegiatan rutinitas yang overload masih dilakukannya walau terseok seok.

Mungkin bagi sebagian istri jika dihadapkan dengan fenomena ini tidak sedikit yang terjerat rentenir. Tapi si ibu tetap istiqomah dengan ikhtiar maksimal.

Tubuhnya semakin lama semakin kurus Si ibu akhirnya terkapar dengan si kecil di gendongan. Beban penderitaan yang dinikmatinya tak juga ia mengeluh.

Ambruk. Itulah akhir episode kehidupan yang tragis. Terlambat sudah. Rumah sakit pun tak mampu menampung rasa sakitnya. Di akhir hidupnya belum genap 30 tahun ia menyerah pada takdir, tak ada orang mampu meringankan bebannya.
Tangisan si kecil tak ia dengar lagi, semakin lama semakin senyap, bersama dingin yang merasuki sekujur tubuhnya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Semoga kau beristirahat dengan tenang di sana.

Mengenang perjuangan saudaraku Lia. Menjadi hikmah bagi kita semua. Bagi para suami, bagi anak-anak yang masih mempunyai ibu dan bagi para ibu.

Wassalam
yetisulfiati.blogspot.com

#gerakansayangibu
#ringankanistri
#literasi
 
Designed By Yeti